Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

Friday, November 22, 2013

Travelling Keluarga (part 3)



The Gisan Atmodjos
 Day 2

Hari kedua targetnya gak muluk-muluk. Ngabisin waktu seharian di Universal Studios Singapura. Mainannya OK sih tapi sebenarnya Dufan juga sudah cukup OK untuk amusement park macam gini. Tapi dibanding Disneyland California sih...ya gitu deh. Tapi demi anak-anak kita seru-seruan aja. Hujan pula. Wedheh...bayi kami juga kena hujan dikit. Alhamdulillah nggak sakit setelahnya.


Musholla di USS (samping Galactica)
Sebelum berangkat dibilangin temen-temen kalau di USS susah nyari mushola. Agak bingung juga nih. Alhamdulillah ketemu mushola deket roller coaster Galactica. Perhatiin aja petanya, ada kok musholanya. Kecil sih, tapi bersih dan terawat.

Keluar USS udah sore, nyari makan yang ada nasi lemak lagi...nasi lemak lagi. Soalnya di foodcourt deket pintu masuk USS menunya yang halal terbatas. Kita nikmati aja. Tapi teh tariknya tetep mantep banget.

 Oh ya, kami ke Singapura pas Imlek, jadi agak sepi kemana-mana. Termasuk di USS antrian ke wahana-wahana jadi nggak terlalu panjang.

Balik ke hotel udah malam pake shuttle bus gratisan yang ngelewatin hotel kami.

Great. Jalan-jalan serunya sukses.

Siap-siap buat petualangan selanjutnya ke Legoland Malaysia. Yuuhuuuuu....

Day 3

Menyeberang perbatasan
Diskusi tentang transportasi yang akan dipakai besok menjadi menu setiap balik ke hotel. Udah nanya-nanya jalur bis untuk membawa kami ke Legoland Malaysia, akhirnya diputuskan nyewa minibus aja. Bawa 13 orang di rombongan melintasi 4 kantor imigrasi dalam satu hari akan menjadi tantangan banget kalau harus naik bis umum. 4 kantor imigrasi karena pagi keluar dari Singapura harus lewat 1 kantor Imigrasi Singapura dan masuk Malaysia harus berurusan dengan 1 kantor Imigrasi Malaysia. Sore balik lagi dari Malaysia ke Singapura akan menjalani proses serupa. Lancar urusan melintasi perbatasan, asal bawa paspor dan ngantri aja.

Oh ya, minibus yang kami sewa adalah hasil kontak dengan Abang Zahid lagi. Ketika tidak menemukan cara mudah dengan menggunakan bis umum ke Legoland Malaysia, teringat tawaran Abang Zahid ketika nganter kami dari bandara ke hotel. Dia bilang minibusnya bisa disewa untuk melintas ke Malaysia. 400 dollar Singapura seharian dan mau ngantar kemana aja. Gw akhirnya telpon dia. Sayangnya minibusnya udah booked. Untungnya dia bisa atur temennya untuk nggantiin. Namanya Abang Saat. Orang melayu Singapura. Bapaknya orang Solo. Sip lah...Perkenalan dengan Abang Zahid di awal kedatangan emang berguna.Di akhir perjalanan, minibus yang kami pake dari hotel ke bandara pun atas rekomendasi dia. Drivernya baik juga, mau ngasih city tour sambil jalan ke Changi.

Balik lagi ke cerita tentang imigrasi. Sorry banget harus cerita, Kantor Imigrasi Singapura beda sama Kantor Imigrasi Malaysia. Tahulah mana yang lebih rapi hehehe

Untung ada Abang Saat. Dia helpful banget ngasih tau prosedur ngelewatin perbatasan. Paling nggak kami udah tau jalur mana yang harus kami ambil dan apa yang harus kami lakukan. Menghemat waktu banget.
Setelah urusan Imigrasi, secara resmi kami sudah berada di Malaysia. Target tur 3 negara Family’s Tour kami tercapai. Indonesia-Singapura-Malaysia.

Jalanannya lebar-lebar. Indonesia harus belajar dari tetangga-tetangga ini nih. Lancar sampai Legoland. Tiket Legoland udah beli lewat Abang Saat. Dapet diskon lumayan. Yang harusnya 140 ringgit jadi 110 ringgit.


Kami di drop di Legoland. Seru banget di sini, karena kami sekeluarga penggemar permainan Lego. Anak-anak mainnya nggak berhenti-berhenti. Di Legoland nyari Musholla lebih gampang daripada di USS. Paling nggak ada 2 Musholla di dalam Legoland. Musholla-nya gede dan lumayan bersih. Dibilang lumayan karena sebenarnya lebih bersih yang di USS heheh






Keluar dari Legoland sudah sore. Abang Saat sudah menunggu di depan lokasi. Ditawarin ke mall untuk belanja souvenir tapi kami sudah kecapekan. Akhirnya diputusin ke kotanya Johor Bahru untuk makan malam.

City tour dulu di Johor Bahru sambil menuju ke tempat makan. Sama Abang Saat dibawa ke Bon Village. Kayak foodcourt gitu. Menunya macam-macam, dari makanan melayu, India sampai Chinnesse food. Cocok nih. Pilihannya bisa macam-macam. Enak pula. Disini ketemu pekerja-pekerja restoran ini yang ternyata beberapa diantaranya orang Cirebon dan orang Jawa.

Selesai makan kami balik ke Singapura. Melintas perbatasan lagi dengan melewati 2 kantor Imigrasi.
Sampai di Singapura udah jam 20 an. Harusnya kalu diitung secara tepat sewa minibusnya sudah habis waktunya. Tapi karena Abang Saat baik, dia mau nganterin kami ke tempat Singa Muntah, The Merlion di Merlion Park. Biasa, poto-poto. Biar kelihatan orang Indonesia asli. Belum afdol ke Singapura kalau belum foto dengan latar belakang Singa Muntah :)


Sampai hotel malam banget. Packing karena besokannya harus pulang ke Jakarta.

Day 4

Penerbangan ke Jakarta siang. Jadi masih ada waktu untuk beli souvenir di Lucky Plaza. Gw nitip sama adikku aja. Abis sarapan mau santai aja di hotel sama anak-anak.

Siangnya dengan diantar teman Abang Zahid jalanlah kita ke bandara. Dia ajak keliling dulu ngelewatin Mustafa dan tempat orang Indonesia biasa berkumpul.

Sampai Jakarta sore.

Alhamdulillah semua lancar. Ada hikmahnya jalan-jalan seru tanpa agen travel. Kami jadi tambah kompak. Semua dipikirin bareng. Semua dijalanin bareng.


Menantikan Family’s Values Tour episode-episode selanjutnya :)

Travelling Keluarga (part 1)



Bulan Februari 2013 lalu adalah bulan yang spesial buat keluarga besar kami. Sejak tahun lalu kami sekeluarga berencana untuk melakukan perjalanan bersama dan kalau bisa ke luar negeri. Rencana awal tujuannya adalah Korea Selatan, tapi karena anak-anak kami masih balita dan kuatir akan perbedaan cuaca yang terlalu drastis akhirnya Korea Selatan disimpan dulu dalam kotak rencana. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya diputuskan untuk ke negara yang nggak terlalu jauh. Pilihan jatuh ke Singapura dan Malaysia. Flight banyak dan durasi terbang nggak terlalu lama. Cuaca juga nggak jauh beda dengan Indonesia.

Family Trip dengan mudah berubah menjadi Adventure Travelling ketika melakukan perjalanan bersama dengan peserta yang range umurnya dari Bapak Ibuk yang usianya sudah diatas 50 tahun sampai anak gw yang masih bayi 8 bulan. Belum lagi ada anak keduaku yang hampir 4 tahun dan kedua sepupunya yang masih berusia 2 tahun lebih dan 1 tahun lebih. Mereka lagi aktif-aktifnya. Anakku yang SD sih udah ngerti. Total 13 orang. Udah gitu nggak ikut paket yang biasa dibuat travel agent...Go with the flow aja...Seru...Hehehe...

Urus Paspor
Untuk keluarga kecilku, petualangan dimulai dari ketika mengurus pembuatan paspor.  Perpanjangan buat aku, istri dan anak pertama. Buat paspor baru untuk anak kedua dan ketiga.
Mudah? Iya kalau elo buat paspor buat diri elo sendiri. Coba tambahin unsur istri + 3 anak (1 sudah sekolah SD, 1 playgroup dan 1 bayi). Mau ke kantor imigrasi aja harus tertunda beberapa kali. Kitanya free, anak yang SD formatif test. Semua udah bisa, yang kecil sakit dll.

Oh iya, gw sengaja niat ngurus paspor sendiri. Gak pakai calo. Kalau pakai calo mahal, bisa sampai 1 juta tiap paspornya. Selain itu setelah browsing di internet, Kantor Imigrasi Tangerang dikenal udah lumayan  rapi dan prosedurnya pasti. Ada jalur Online untuk masukin berkasnya. Yang nggak Online juga masih bisa, tapi perlu waktu lebih lama. Pingin buktiin sendiri bener nggak sih...

Jadi, ternyata ada dua jalur yang bisa dipilih ketika mengurus pembuatan paspor. Sebut saja Jalur Nggak Online dan Jalur Online :) 

Info lengkap ada di www.imigrasi.go.id

Simple-nya begini. Kalau yang Nggak Online itu paling tidak perlu datang ke kantor imigrasi 3 kali dihari yang berbeda. Langkah Pertama, masukin berkas. Setelah itu dikasih pengumuman kapan hari dan tanggal photo. Kedua, datang lagi ke kantor imigrasi di hari lain untuk bayar, photo dan wawancara. Ketiga, datang lagi untuk ambil paspor yang sudah jadi. Biasanya 4 hari kerja setelah photo.

Nah, untuk jalur Online Langkah Pertama dan Kedua dilakukan dihari yang sama. 4 hari kemudian datang lagi ke kantor imigrasi untuk ambil paspor. Jadi hanya perlu 2 kali datang ke kantor Imigrasi.

Syarat-syarat Pembuatan Paspor sama saja:
1.      KTP (asli dan fotocopy)
2.      Kartu Keluarga (asli dan fotocopy)
3.      Akte Kelahiran/Ijazah (asli dan fotocopy)
4.      Surat Nikah (bagi yang sudah menikah)
5.      Paspor lama untuk yang sudah punya paspor (asli dan fotocopy)
6.      Surat rekomendasi dari tempat kerja (lumayan membantu untuk meyakinkan akan kerjaan kita)
7.      Formulir Perdim 11 dan Surat Pernyataan + Map (diambil di tempat fotocopy kantor Imigrasi...GRATIS). Kalau mau fotocopy dokumen tambahan dan beli materai, baru bayar...ya iyalah.
Untuk anak-anak  dibawah 17 tahun dan belum punya KTP, syaratnya sama dengan di atas, Cuma KTP dan Surat Nikahnya pakai punya orang tuanya. Ditambah Surat Pernyataan Ortu + Materai (diambil di tempat fotocopy kantor Imigrasi). Selain itu ada syarat tambahan untuk yang ganti nama dan untuk warga yang baru jadi WNI.

Untuk prosedur Online, dokumen-dokumen di atas (kecuali no. 7) di scan dengan format greyscale dan ukuran filenya maksimal 300 kb.
Login di pembuatan paspor Online di www.imigrasi.go.id
A.      Isi data diri. Untuk anak-anak pakai NIK (Nomor Induk Kependudukan) yang di Kartu Keluarga. Kalau ada kolom KTP berarti pakai KTP orang tua (tanggal pembuatan dan berakhirnya KTP).
B.      Upload dokumen-dokumen yang sudah di-scan
C.      Pilih Kantor Imigrasi dan pilih tanggal kedatangan. Bisa dimana aja. Cari yang dekat rumah aja dan tanggalnya sesuai dengan waktu yang kita punya. Kalau di tanggal yang kita pilih kita berhalangan, harus mengulang proses pendaftaran online lagi untuk dapatin tanggal yang baru. Yang lama dianggap hangus.
D.     Print bukti pendaftaran Online untuk dibawa ke kantor Imigrasi.
E.      Datang ke kantor Imigrasi di tanggal yang telah dipilih dengan membawa semua berkas asli dan fotocopy. Kalau di Kantor Imigrasi Tangerang lumayan rapi. Gak perlu antri dari subuh. Belum buka juga kantornya hehehe...jam 07.30 okelah. Ambil Map, formulir, surat pernyataan dan beli materai di tempat forocopy (lihat no. 7 di atas). Isi formulir dengan lengkap. Setelah itu bawa ke Customer Care (lokasi dekat pintu masuk) untuk diperiksa kelengkapannya dan diberi nomor antrian. Beda nomor antrian dan loket untuk yang Online dan Nggak Online. Yang Nggak Online antriannya lumayan panjang. Terus nunggu dipanggil...
F.       Ketika dipanggil ke loket, bawa print out bukti pendaftaran Online dan Map yang berisi formulir dan semua berkas (fotocopy-nya saja). Setelah diperiksa dikasih tanda terima yang juga berisi keterangan kapan tanggal dan hari untuk pembayaran biaya pembuatan paspor, photo dan wawancara. Disini yang membedakan nasib yang Online dan yang Nggak. Yang Online biasanya disuruh datang lagi siang harinya di tanggal yang sama (kecuali hari itu membludak peminatnya), sedangkan yang Nggak Online di kasih tanggal lain.
G.     Antrian untuk bayar dan photo baru bisa diambil sekitar jam 13. Jadi kalau masih lama mendingan pulang atau jalan-jalan dulu. Jam 13 kurang dikit ambil nomor antrian bayar dan photo dengan menunjukkan tanda terima pengumpulan berkas. Setelah dapat nomor antrian, nunggu dipanggil lagi...
H.     Selanjutnya, bayar, antri photo, rekam sidik jari dan wawancara untuk memeriksa dan memverifikasi data. Dokumen asli baru diperlukan disini. Disiapkan saja untuk ditunjukkan kepada petugas. Setelah sempat bikin ‘hang’ 2 komputer untuk photo, akhirnya kelar juga photo-nya. Anakku agak energik, pas di photo dia udah pasang senyum, sayangnya matanya jadi merem. Komputer dan kamera digitalnya standby terlalu lama karena kelamaan atur ekspresi anakku, hasilnya 2 komputer hang hehehe...Setelah wawancara diberi tanda terima lagi untuk bukti pengambilan paspor 4 hari (kerja) kemudian. Ada keterangannya kapan jadinya itu paspor.
I.        Pada hari yang ditentuin datang lagi ke kantor imigrasi. Nunjukin tanda terima, ambil nomor antrian, nunggu dipanggil, trus dipanggil, dikasih paspor, disuruh fotocopy paspor baru untuk berkas kantor imigrasi, nyerahin fotocopyan paspor...selesai deh

Salute buat Kantor Imigrasi Tangerang. Serius mau berbenah. Beda dengan situasi tahun 2006 dulu ketika ngurus paspor. Waktu itu nyari info tahapan bikin paspor aja bingung mau nanya siapa.

Kesimpulannya, enak juga bikin paspor secara Online. Hemat waktu. Mengurangi  1 hari kunjungan ke kantor imigrasi. Biaya sama aja. Rp. 255.000 untuk paspor 48 halaman. Antriannya lebih sedikit dibanding yang Nggak Online. Mungkin karena banyak yang belum terbiasa ngurus yang Online.
Nah, petualangan pertama terlalui hehehe... (bersambung)