Showing posts with label film dokumenter. Show all posts
Showing posts with label film dokumenter. Show all posts

Sunday, July 26, 2009

Interviewing Techniques in Documentary Production

There are five important points to be considered when talking about interviewing in documentary making process. There are: the preparation and understanding of situations, questioning strategy, the controller, the camera placement, and the ethic issue. This journal will describe these important points.

First of all, the preparation and the understanding of the situations is the important thing. The interviewer needs a basic skill of interviewing for documentary film. The preparation of everything is important, but it must not eliminate the spontaneous factor. The preparation means that the interviewer should have some expectation of what each subject participants will contribute. Another thing is during interview process the interviewer must know when s/he has to talk and when s/he should be quiet. The interviewer cannot talk when the subject is talking, because this situation will make the editing process more difficult. In order to give some response, the interviewer only can give some visual feedback such as nodding or smiling.

The second important factor is the questioning strategy. The interviewer has to arrange the clear and understandable question. It will help the subject answering the question easily. The interviewer also has to guide the subject to answer each questions in complete sentence instead of answering shortly such as ‘yes’ or ‘no’. To gain the depth information, the interviewer has to build the intimate situation with the subject gradually and try to make the subject comfortable with the interviewer.

Third, the controller in interviewing process should be the director, but in some situation the director can use other people such as the researcher or the other crews to make the subject more comfortable during the filming process. Using the researcher as the interviewer can be good way to continue the relationship with the subject because the researcher usually knows the subject before the director. So using the researcher as the interviewer will make the subject more relax and easy to talk about something deeply. On the other hand, using new person (the director) as the interviewer also has some advantages. One of the advantages is the arrival of a new person will build more spontaneous situation between the interviewer and the subject.

Fourth, the camera placement will also have some significant effects, especially between the audiences and the subject. If the camera is placed in front of the subject and make the subject looks talk to the audiences directly, it will give a face-to-face impression between the subject and the audiences. The audiences will feel be involved in the interview and the interview acts on the behalf of the audience.

Finally the last important point is the ethic issue. This is a big issue for the documentary makers. The need to tell the truth is bordered with the interest to keep the privacy of the subject participants. That’s why some documentary films make some controversy in the society after being released because the public cannot accept the documentary that perhaps has disturbed the norms or values applied in the society. Cunnamulla and The Crumb are some of those controversial documentaries.

In conclusion, the five important points should be considered in interviewing especially in documentary making process.

Tuesday, May 26, 2009

LANGKAH-LANGKAH MEMBUAT FILM DOKUMENTER



1. IDE.
Filmmaker mencari IDE yang menakjubkan.

2. Visualisasi
Filmmaker membayangkan idenya dalam bentuk visual.

3. Memikirkan pertanyaan-pertanyaan penting yang berkaitan dengan ide yang akan dikembangkan menjadi film dokumenter.

  • Bagaimana cara mendapatkan akses ke ‘SUBYEK’ dan tempat yang akan di jadikan lokasi shooting?

  • Hubungan macam apakah yang diinginkan dan mungkin dibangun dengan ‘SUBYEK” yang akan dilibatkan?

  • Berapa durasi film dokumenter yang akan dibuat?

  • Dananya dari mana?

  • Pendekatan filmic yang akan di pakai?


4. RESEARCH

  • Cari tahu segala informasi yang berkaitan dengan subyek

  • Cari iformasi tentang pendanaan dan sponsor yang mungkin untuk dilibtkan

5. PROPOSAL/TREATMENT

  • Deskripsi singkat tentang project yang akan dibuat. Contoh:
    Jaranan -The Dance from the Heart- adalah film dokumemter berdurasi 30 menit tentang transformasi peran. Mengikuti karakter-karakter menarik di sebuah desa kecil di Jawa Timur yang dalam keseharian mereka sebagai buruh bangunan atau buruh tani bertransformasi menjadi bintang pertunjukkan pada sebuah pentas

  • Sinopsis, background, karater utama, event

  • Style.

  • Cara pengambilan gambar, sound, lighting, teknik interview, editing

  • Akses special yang membuta dokumenter ini menarik dan beda dengan yang mungkin dibuat orang lain

  • Biasanya melelui beberapa tahap revisi


6. GUNAKAN PROPOSAL/TREATMENT UNTUK MENCARI SUMBER PENDANAAN

7. SCRIPT
Sebagai acuan untuk membangun cerita

8. PRE-PRODUCTION
Membuat semua perencanaan dan pengaturan untuk shooting film dokumenter

  • Ijin lokasi

  • Kontrak

  • Revisi Schedule dan Budget

  • Menyamakan visi diantara kru yang terlibat

  • Ijin untuk arsip orang lain

  • Ijin untuk musik


9. SHOOTING
Eksekusi dari perencanaan yang telah dibuat

10. EDITING
Perhitungkan wkatu yang dibutuhkan. Terutama bila harus menyewa studio editing.
Menyusun Sequences, gunakan bagian yang terbaik, buang yang tidak perlu.

Tahapan:

  • Logging

  • Rough Cut

  • Fine Cut

  • Sound Editing


11. POSTPRODUCTION LAINNYA:

  • Sound Mix

  • Title

  • Special FX yang mungkin digunakan

  • Rekam ke MiniDV, Betacam, VCD atau DVD


12. Marketing dan Distribusi

(Disarikan dari pendapat Martha Ansara)

Sunday, May 24, 2009

SEKILAS DOKUMENTER


DEFINISI: ‘representasi dari kehidupan dan dunia yang kita tempati’ (Nichols, 2001).
Dokumenter adalah kendaraan (vehicle). Pembuat doco sebagai ‘sopirnya’.

Dokumenter Vs Liputan Jurnalisik

HISTORY OF DOCO
Muncul sekitar tahun 1890 an. Sejalan dengan penemuan kamera film.
Tokoh: Lumiere Bros (kamera portable dan sistem proyektor).

POPULAR REVIVAL (1920-1950)
Tokoh:
Robert Flaherty - ethnographic feature (Nanook of The North)
John Grierson – dokumenter yang disponsori pemerintah atau pengusaha (propaganda perang, pendidikan, industrialisasi)

British Documentary Movement
Canada Documentary Movenment etc.

BIG QUESTIONS
1. Dokumenter tentang apa yang ingin saya buat? (ketertarikan dan pusat perhatian pembuat doco - ‘the subject’ atau topic).
2. Apa yang ingin saya sampaikan kepada audience tentang ‘the subject’? (argumen dan point of view – ‘the thesis’).
3. Bagaimana saya akan menyampaikannya? (content, structure and style – ‘the treatment’).

MISI DOKUMENTER (menurut Renov):
1. Record, reveal or preserve
• Film Dokumenter sebagai bentuk baru arsip sejarah
• Dokumen sejarah
2. Persuade or promote
• Pendapat filmmaker terhadap suatu isu
• Menjual produk, nilai, pergerakan social, identitas budaya (bisa disposori perusahan atau pemerintah)
3. Analyse or interrogate
• Menguak tabir dari suatu kebenaran
• Menarik perhatian pada proses analisa yang dilakukan filmmaker
4. Express
• Menggunakan seni film (cinematography/editing) untuk memproduksi makna (meaning) dan efek
• Documenter sebagai ‘pleasurable learning’ (entertain)

POWER OF DOCUMENTARY
 Transforming the subject
 Celebrating the “Ordinary”
 Filmmaker and the process
 Audience Motivation/Activation

MODE/PENDEKATAN DALAM MEMBUAT DUKUMENTER (menurut Nichols):----style----
- Expository Mode
- Observational Mode
- Interactive Mode
- Reflexive Mode

CINEMA VERITE
Ciri:
1. handheld, gambar agak goyang, up close and personal
2. 1 camera, tidak ada ‘reaction shot’
3. direct location sound
4. gaya editing yang menunjukkan kekinian, continuity
5. long take, lack of action
6. tidak ada narasi
7. tidak ada pengenalan terhadap subject/topik
8. sedikit pemakaian teks
9. pendekatan jurnalistik investigasi

PEMILIHAN TOPIK
Menarik, dekat dengan masalah di masyarakat, memungkinkan untuk didapatkan gambarnya.


EKSEKUSI/PRODUKSI
1. Research
2. Shooting


WAWANCARA
1. PREPARE
 Research orang yang akan diwawancarai dalam hubungannya dengan topik yang akan ditanyakan.
 Buat daftar pertannyaan
 Antisipasi reaksi dari orang yang akan diinterview akibat pertanyaan yang kita ajukan.
2. KNOW WHAT YOU WANT
Harus fokus dalam mengejar apa yang ingin kita dapat.
3. LISTEN TO THE ANSWER
4. DEAL WITH EVASION (‘NGELES’)
Point ini berhubungan dengan point kedua (know what we want). Bila orang yang diwawacarai ‘ngeles’ kita boleh mengulang pertanyaan sebanyak mungkin sampai kita mendapatkan jawaban yang kita inginkan atau sampai terlihat bahwa orang tersebut ‘ngeles’ atau tidak mau menjawab pertanyaan, sehingga penonton berita akan menangkap situasi tersebut.
Satu hal yang penting adalah kita harus tetap ‘Polite’ dalam mengajukan pertanyaan.
4. KEEP QUESTION SHORT
To the point
5. ASK ONE QUESTION AT A TIME
6. JANGAN GUNAKAN YES/NO QUESTION.
Jangan gunakan pertanyaan yang memungkinkan untuk dijawab YA atau TIDAK saja.

ETHIC ISSUE
Hak filmmaker Vs Hak subject participants
Buat perjanjian yang disetujui pihak-pihak yang terlibat.
Buat release form.

EDITING
Menurut Rosenthal: pada 90% kasus, cinema verite (dan lainnya?) ditemukan dan dibuat pada proses editing (pasca produksi)


  • EDITING IS NOT MATHEMATIC. IT’S AN ART.
    Ibarat gambar yang kita punya itu rangkaian kereta api, tugas editor adalah membuat jalannya kereta itu se ‘smooth’ mungkin. Tidak ‘gojlak-gajluk’ sehingga yang naik kereta bisa menikmati perjalanannya.

  • Cari OPENING dan CLOSING shot.
    Bisa establishing shot (tapi tidak harus). Yang penting gambar harus menarik perhatian orang untuk menonton keseluruhan berita (OPENING) dan meninggalkan kesan (CLOSING).

  • WIDE SHOT to CLOSE SHOT
    Variasi komposisi shot diperlukan untuk menghindari JUMP CUT dan memberikan inforasi secara detail melalui gambar.

  • GUNAKAN GAMBAR YANG MENUNJUKKAN PERGERAKAN (MOVEMENT)
    Contoh: Untuk gambar orang baca buku, ambil waktu orang tersebut membalikkan halaman buku.

  • JANGAN MENYAMBUNGKAN PERGERAKAN DENGAN PERGERAKAN
    Contoh: PAN disambung PAN
    PAN disambung ZOOM
    ZOOM disambung ZOOM dll.

  • DON’T CROSS THE LINE
    Perhatikan garis imajiner.

  • Perhatikan SOUND (DUB dan NAT SOUND)
    Terutama untuk perpindahan shot kalau ada suara yang ‘nyelip’, sebisa mungkin dihaluskan.

  • JANGAN TERLALU BANYAK CUT AWAY (INTERCUT)
    Lebih baik menyambung gambar dengan membuat ‘sequence’ yang teratur sehingga ‘continuity’ antar shot tetap terjaga. Bila tidak memungkinkan baru gunakan ‘intercut’.

SEQUENCES
Salah satu definisinya adalah sekurang-kurangnya 2 shot yang disambungkan dan saling mendukung.
Sequence dibuat dengan menyambungkan shot-shot dengan tetap memperhatikan kesinambungan (continuity) yang tercipta. Contoh: Presiden berpidato di podium. Bila pada shot pertama presiden memakai kaca mata, pada shot selanjutnya presiden harus tetap berkacamata. Bila tidak ‘continuity’ akan terganggu.

CAMERA WORK
General Rule: (kecuali pada Cinema Verite)



  • USAHAKAN SELALU GUNAKAN TRIPOD (terutama untuk pengambilan gambar liputan berita)
    Kecuali dalam keadan darurat seperti rebutan gambar atau untuk alasan keselamatan.

  • JANGAN terlalu sering PAN DAN ZOOM
    Gunakan STEADY SHOT dengan berbagai komposisi, framing dan angle.
    Boleh PAN dan ZOOM asalkan ada alasannya.

  • UNTUK INTERVIEW SELALU PERHATIKAN:
    Looking Room: ruang kosong di depan pandangan mata orang yang diwawancarai.
    Head Room: ruang kosong di atas kepala orang yang diwawancarai.
    Posisi obyek jangan terlalu menyamping atau akan terlihat seperti gambar dua dimensi/wayang kulit.

  • Hati-hati dengan CROSSING THE LINE.
    Bila mengambil gambar dari sebelah kiri untuk selanjutnya juga harus selalu dari sebelah kiri. Kalau akan berubah mengambil gambar dari kanan harus ada cut away/intercut untuk memudahkan dalam proses editing.

  • Berpikirlah bahwa gambar yang di shoot adalah untuk kepentingan editing.

  • AMBIL GAMBAR YANG DAPAT DISUSUN MENJADI SEQUENCE.
    Misalkan gambar 1. Wide Shot Orang jalan ke meja, kalau bisa gambar kedua adalah Medium Shot atau Close Up Orang itu sudah dekat meja, duduk dan akan menandatangani kertas di meja.

  • AMBIL NATSOUND
    Kalau ada lagu yang mendukung berita ambil gambar dengan berbagai angle tanpa mematikan kamera sehingga lagu tersebut terekam secara lengkap. Contoh: upacara bendera, penyambutan tamu negara dan konser musik.

KESIMPULAN
YANG DIPERLUKAN DALAM MEMBUAT FILM DOKUMENTER



  1. RENCANAKAN BUKTI VISUAL YANG AKAN DIREKAM

  2. KENALI KETIKA GAMBAR YANG DIPERLUKAN MUNCUL DI DEPAN MATA

  3. SELEKSI DAN SUSUN HASIL REKAMAN UNTUK MEMBUAT ARGUMEN VISUAL YANG BISA DINIKMATI DAN KALAU BISA DIPERCAYAI AUDIENCE.