Showing posts with label human interest. Show all posts
Showing posts with label human interest. Show all posts

Saturday, December 08, 2012

Kerja di kafetaria kampus



Lagi ngirisin rainbow cake kiriman temen, jadi inget waktu kerja di kafe dan kebagian ngirisin kue-kue buat dessert. Satu hal yang paling menakutkan dari banyak hal yang harus dikerjakan selama kerja di kafe itu. Takut berantakan man, ‘presentation’ itu hal penting dalam seni menyuguhkan makanan. Lha, black forest adalah salah satu yang nggak mau berteman baik ama gw. Susah rapinya kalo di iris. Mleyo-mleyot. Tart apalagi.  Pie mending lah, meski isinya keluar-keluar. Mana diawasin terus sama managernya :)

Waktu itu gw kerja di salah satu kafetaria kampus gw. Namanya EVK. Di bidang pekerjaan kasar macam ini, orang Indonesia termasuk juaranya dan mendominasi percaturan pekerja kafe-kafe di kampus ini. Sementara student bangsa lain suka ngeluh dan gak tahan lama kerja restoran macam gini, student dari Indonesia termasuk paling betah dan mau ngelakuin apa aja asal argo jalan terus. Dalam dollar lagi hehehe. Malah sampai ada yang jadi supervisor. Ceritanya, kalau di Indonesia beliau ini seorang dokter. Selama ambil S-2 di University of Southern California, Los Angeles ini, beliau kerja di kafetaria kampus. Semakin dipercaya managemen, jadinya beliau punya ‘wewenang’ untuk merekrut tenaga baru. Ada yang dari India, China, dan paling banyak dari Indonesia tentunya. 

Gak cuma di kafe tempatku kerja, di kafe-kafe lain di kampus ini (kampus ini kafenya banyak) juga ada aja student dari Indonesia yang kerja di situ. Gak cuma student malah, yang menguasai pasar sushi di sini ternyata seorang ibu asal Malang Jawa Timur. Pingin ketawa kalau lihat orang Jepang makan siang pakai sushi yang sebenarnya mengandung sentuhan Jawa Timur. Sushinya Ojo dikasih sambel pecel ya bu hehehe

Melihat  peluang itu, akhirnya aku join di salah satu kafetaria. Untuk cari pengalaman dan tambah penghasilan. Per jam-nya 6,5 dollar. Termasuk keren waktu itu dan katanya udah masuk UMR Los Angeles. Gak tau bener apa nggak, tapi yang jelas harga paket burger+frech fries+cola aja masih sekitar 2,5 dollar. Jadi kalau kerja 1 jam aja udah bisa makan junk food 2 kali + ongkos bis kota :) 
Padahal sehari kerja bisa 8 jam. Fiuh...

Kerjanya all-round. Dari jadi bagian serving, runner (bersihin meja dan isi stock2 makanan yang kosong), ngurusin dessert, sampai bagian cuci piring. Tiap hari dirolling, jadi tiap dateng harus lihat dulu info di papan pengumuman untuk tau tugas apa hari ini.
Workin' @ EVK, USC LA
Hari pertama, karena rambut gondrong (metal forever), gw harus pake hair net. Cool, keren, kayak anak gang meksiko hehehe. Kalau nggak ya kayak anak gang sebelah lah hehehe. Karena gak punya, gw dikasih sama ibu-ibu baik hati bernama Maria. Temen kerjanya adalah beberapa anak S-2 dari Indonesia yang sama-sama cari tambahan duit, 2 anak India yang cuma tahan beberapa hari, 1 anak Taiwan/China yang cuma masuk sehari trus gak keliatan lagi besokannya. Ada juga dua anak muda keturunan meksiko. Mereka baru lulus SMA tapi belum bisa masuk college karena kurang biaya. Uniknya keduanya bernama Jesus (dipanggil Hesus). Trus ada temen cuci piring (gw lupa namanya), cewek afrika amerika berbadan besar yang rajin ngumpat seperti di film-film hollywood kalau cucian piringnya lagi bejibun. Selain itu banyak bapak-bapak dan ibu-ibu latino di bagian masak. Managernya juga latino. Mana orang bulenya ya, kayak nggak di amerika hehehe...

Enaknya disini, karyawan boleh makan apa aja yang ada di situ ketika jam istirahat makan. Berat badanpun langsung melonjak man hehehe. Dari ‘dunia ngirit’ kemudian masuk ke ‘dunia bebas makan’. Dari sereal, main course sampe dessert boleh di makan. Tapi gak boleh dibawa pulang. Meskipun kalau udah malam tetep aja kita bawa pulang sama-sama. Daripada dibuang. Mubazir hehehe. Juga sebagai bentuk perlawanan terhadap manajemen restoran modern yang memilih membuang makanan daripada dikasi ke pekerjanya. Buruh bersatu dimanapun jua hehehe

Beberapa hal yang gw pelajari, standar kebersihannya dahsyat. Ketika serving makanan harus pakai sarung tangan plastik. Sarung tangan disediain dalam jumlah tak terbatas. Kalau pas pake sarung tangan garuk-garuk badan, harus langsung ganti sarung tangan. Nerima piring yang sudah dipegang customer, ganti sarung tangan. Apron (celemek) sekali pakai. Selesai shift langsung dimasukin kantong laundry. Untuk cuci piring, setelah di semprot pake air tekanan tinggi, dimasukin ke mesin pencuci dengan suhu tinggi. Sempet ada temen dari Indonesia yang buang ingus di wastafel tempat cuci handuk lap meja (bukan tempat cuci tangan lho), diomelin sama yang lain. “Hey man, you’re in trouble man...do your thing in the restroom!”

Melelahkan tapi seru. Sedikit kenal dengan kehidupan ‘grass root’ orang Amerika. Karena mau test, gw harus mengakhiri ‘karier’ pendek gw di bidang ini. Terakhir jadi kasir.

Thursday, December 29, 2011

Ada "Mr. Wendal" di Pasar Malabar


Siang itu ketika nganterin istri belanja di pasar Malabar Perum Tangerang, terdengar musik yang ‘tidak pada tempatnya’ sayup terdengar dari balik belantara baju-baju kw, daster dan baju anak-anak. Biasanya di pasar yang nge-hit adalah lagu-lagu Alay dan dangdut koplo. Tapi satu lapak di tengah pasar Malabar ini special. Dia memperdengarkan Mr. Wendal dari Arrested Development yang ngetop di tahun 90-an dan seolah berusaha habis-habisan mengeluarkan bunyi melawan dominasi band Alay dan dangdut yang menyerbu dari segala penjuru.

Jadi penasaran pingin tahu siapa pemilik lapak special tersebut. Sambil lewat saya melirik ke arah lapak tersebut. Postur yang punya lapak sesuai banget dengan penggabaran lagu yang diputar. Paling tidak semangatnya. Seperti lirik lagu Mr. Wendal itu...

“Mr.Wendal has freedom,
a free that you and I think is dumb”


Elemen ‘Freedom’ dia wujudkan dengan menjadi pengusaha mandiri di tengah keriuhan pasar. Menjadi BOSS untuk dirinya sendiri.

SALUTE "Mr. Wendal"...

Thursday, October 07, 2010

Blessing in Disguise


“Kenapa harus gw?” Begitulah kalimat yg terlintas dibenakku ketika dikabari tentang tugas yang harus aku lakukan untuk beberapa bulan ke depan. Lewat SMS lagi. Kalau yang lain bisa nolak kenapa aku nggak boleh nolak? [Tiga bulan yang lalu]

“Alhamdulillah...” Everything is meant to be. Untung waktu itu aku ‘memaksakan’ diri untuk rela mengerjakan tugasku. Berkat ‘petuah-petuah’ dari senior dan tentunya penyadaran dari istriku tersayang :), aku berusaha mencari hikmah dari tugas itu [Sekarang]

Apa kabar kawan? Sudah lama juga gak nulis di blog ini. Selamat menikmati hari-hari ‘biasa’, setelah melewati hari-hari spesial di bulan Ramadhan dan Syawal. Yang aku tulis di atas itu beneran kejadian kemarin. Tugas apa itu gak usah kita bahas (rahasia perusahaan :)), aku cuma mau cerita enak-enaknya aja. Kalau istilah Andrea Hirata, madunya.

Tugas alhamdulillah bisa dilaksanakan, meskipun diawal ada yang meragukan. Terserah mau dibilang bagus apa jelek. Efek sampingnya, dalam waktu sekitar tiga bulan aku bisa menjelajahi 7 propinsi. Gratis. Meski kadang nombok juga buat beli oleh-oleh. Kalap hehehe...

Surabaya, Jawa Timur
Ini destinasi pertama. Berangkat naik Lion Air, balik ke Jakarta sama.
Tujuan pertama ini istimewa karena penugasannya mendadak banget dan aku sekalian ‘pulang kampung’ hehehe...Pakai tanda kutip karena aku bukan asli sini, tapi saat ini ortu dan adikku ada di kota ini. Siplah...Blessing in Diguise I.

Bandara: OK lah...mirip bandara Perth.

Wisata dadakan: gak sempet.

Makanan: Cuma sempet makan soto daging di jalam A.Yani deket belokan ke arah Gayungsari, Bebek Goreng Jemursari dan Rawon di Taman Bungkul.

Oleh-oleh: bandeng asap, kripik buah-buahan (Malang), petis, pisang ledre.

Kesan: panas & macet.

Batam, Kepulauan Riau
Baru nyampe Jakarta dari Surabaya, besoknya langsung berangkat ke Batam. Berangkat naik Lion (ada mbak2 nyalain HP diatas cuma buat dengerin musik alay...dasar 4L4y), balik naik Garuda (eh..ada headphone buat dengerin videonya, kirain cuma buat penerbangan ke luar negeri aja). Pengalaman pertama ke daerah Sumatra...Blessing in Disguise II. LA, San Diego, Perth, Sydney, Mekah, Madinah, Singapore, Hong Kong, Taipe udah pernah tp pulau-pulau di Indonesia selain Jawa, Bali, Lombok belum pernah. Memalukan. Madura pun belum.

Bandara: kok gak kayak Singapore?

Wisata dadakan: gak sempet, Cuma lihat-lihat toko/ruko di Nagoya yang aku kirain kayak Nagoya di Jepang. Salah besar.

Makanan: Sop ikan Yong Kee (pertamakali makan sop ikan). Enak juga. Biasanya doyannya cuma ikan goreng atau bakar atau asam manis. Sop ikan yang bening gitu gak pernah terlintas sekalipun dipikiranku untuk dipesan. Dipegaruhi temen akhirnya nyobain juga. Beneran enak dan gak amis. Makan seafood di deket dermaga penyeberangan ke Singapore. Enak dan bisa melihat pemandangan malam Singapore yag kerlap-kerlip dengan nelangsa....Ada lagunya: Di sana Terang di sini Gelap.

Oleh-oleh: coklat-coklat produk malaysia (aneh?), parfum-parfum yg gak tau asli tidaknya, keik pisang

Kesan: What have you guys done? Aku denger tentang Otorita Batam dari jaman SD. Bayanganku Batam udah kayak Singapore. Ternyata...

Banjarmasin, Kalimantan Selatan
YEEAAAHHHH!!! Langsung aja ini merupakan Blessing in Disguise III. Pertama kali ke pulau besar ini. Naik Garuda lagi. Ketemu ‘bolo plek’ (sohib) masa kuliah AO (dipanggil begitu apa karena suka minum Anggur Orangtua ya? Disingkat AO). Dapat temen baru. Pak Tua Baik Hati dari Banjarmasin. How are you Mr. Morgan Freeman? Mirip banget :)

Bandara: panas...toilet problem.

Wisata dadakan: pasar apung

Makanan: soto banjar (gerobak kaki lima di gang deket Ramayana). Pasti asli, otentik dan enak bener.

Oleh-oleh: Ikan Saluang (dikasih AO..thanks bro)

Kesan: Nice people. Pembangunan kotanya jangan ikut-ikutan kota-kota di Jawa dong. Semerawut. Jawa gak punya contoh tata kota yang bagus. Bikin model sendiri. Niru malaysia juga gak papa. Yang penting maju.

Palangkaraya, Kalimantan Tengah
Perjalanan darat dari Banjarmasin ke Palangkaraya sekitar empat jam. Lancar....Ya iyalah, soalnya dikawal Polisi sampe tujuan. Tiap perbatasan kabupaten /propinsi pengawalnya gantian. Misalnya: Pengawal dari kabupaten A berhenti di perbatasan, dan diseberang perbatasan sudah stand by pengawal dari kabupaten B. Dan semuanya dilakukan tanpa berhenti. Empat kali ganti. Nice coordination. Good job. Kayak orang penting aja kita hehehe.
Di Palangkaraya akhirnya bisa main ke tempat Bulikku. Pertama kali juga nih...Blessing in Disguise IV.

Bandara: kurang bersih

Wisata Dadakan: gak sempet...berendam & sauna aja di hotel.

Makanan: Gak sempet makan makanan khas sini. Pingin ngerasain rotan muda itu sebenarnya. Tapi sempet ditraktir Ketupat Kandangan (makanan Banjar). Gurih.

Oleh-oleh: kerupuk ikan pipih belida, kuku macan (krupuk ikan juga, bukan dari harimau), kaos motif Dayak dan bungkus HP motif Dayak.

Kesan: Panas menyengat. Tapi jalanannya lebar. Nice. Tetap begitu ya. Jangan niru kota-kota di Jawa.

Jambi
Bener-bener berada di tanah Sumatra. Kalo Batam kan di pulau yang terpisah. Blessing in Disguise V.

Bandara: Kecil...Toilet kaya di terminal bis di kabupaten mana gitu...
Wisata Dadakan: Gak sempet

Makanan: Cuma sempet ngerasain sop ceker pingir jalan (makanan khas sini bukan ya?)

Oleh-oleh: Kerupuk-kerupuk ikan, kemplang, lampok dan Mpek-empek (enak juga lho meskipun ada yang bilang gak enak, tp menurut aku dan keluargaku...ENAK).

Kesan: Kota ini perlu cat. Udah pada kusam tuh bangunan-bangunannya.

Bengkulu
Ketemu temen SMP yang sedang ada kerjaan di kota ini. 19 tahun man. Ketemu masih kelihatan ‘orang pare’nya meski lama di bandung. Siplah... Pastinya ini Blessing in Diguise VI.

Bandara: runaway-nya bergelombang

Wisata Dadakan: Rumah Pengasingan Bung Karno (merinding bo) dan pantai Nala(keren lho, cuma belum tergarap aja)

Makanan: soto (pake pala yang aneh rasanya)

Oleh-oleh: makanan yang kurang cocok di lidah terhapuskan oleh makanan-makanan kecil yang aneh-aneh dan enak-enak. Baytat (kaya nastar), manisan terong (kayak kurma), kopi 1001, lampok durian...Sweet....

Kesan: Gara-gara ketemu oknum tak bersahabat, jadi punya stereotype kurang enak. Gw yakin gak semua orang sini kayak oknum itu.

Manado, Sulawesi Utara
Yipiiieee....Blesing in Disguise VII. Pertama kali ke Manado, transit di Makassar, pertama kali ke Sulawesi. Pemandangannya bagus. Ada pantai ada bukit.

Bandara: Lumayan (Sempet transit di Makassar...bandaranya keren lho. Good job)

Wisata Dadakan: gak sempet [- _ -]

Makanan: Babi guling/kecap, paniki, bubur manado (semuanya gak berani nyobain hehehe...). Nasi padang juga akhirnya.

Oleh-oleh: Halua Kenari (paling TOP), Kacang goyang, bagea kenari, manisan pala, kue sagu keju. Ada juga ikan rowa (ikan asap untuk campuran dabu-dabu atau sayur), tapi gak beli karena gak tau cara masaknya.

Kesan: Nice place. Jangan ngikutin model pembangunan kota-kota di jawa ya...

Thursday, April 08, 2010

Corruptor: The Next Generation

Kasus Gayus, kasus Nazarudin, atau paling sederhana pungli aparat di jalanan agak 'sedikit' mengejutkan buat gw. Mengejutkan banget sih nggak karena alam bawah sadar orang Indonesia pd umumnya sudah punya kavling untuk memaklumi adanya hal2 seperti itu.

Dibilang mengejutkan 'sedikit' karena waktu gw masih kecil oknum yg melakukan korupsi atau pungli adalah orang2 dr generasi di atas gw. Lebih tua dr gw. Sedangkan kasus Gayus dkk menunjukkan bahwa telah terjadi regenerasi sistemik oknum2 yg melakukan tindakan2 ilegal seperti makelar kasus, korupsi, pungli, pemerasan oleh aparat dll.

Umur oknum2 itu ada yg dibawah gw dan permainannya tidak main2. Miliaran rupiah nilainya.

Mengejutkan tapi 'sedikit' aja. Karena pada kavling bawah sadar kita sudah terbangun prasangka (yg bisa jadi benar) bahwa aparat yg punya kekuasaan di lahan basah seperti oknum petugas pajak, oknum polisi, oknum jaksa, oknum hakim, oknum bagian pengawasan dan pemeriksaan di institusi apapun punya peluang dan pengetahuan yg memungkinkan untuk menyalahgunakan kewenangannya. (Wuiiihhh...panjang banget kalimatnya)

Merekalah...Corruptor: The Next Generation...

Sunday, April 04, 2010

Gila Bola / Crazy about Soccer (lanjutan)

Seperti janji gw di tulisan sebelumnya (baca Gila Bola / Crazy about Soccer), gw mau jelasin kenapa gw dukung Brasil di tiap Piala Dunia.
Jawabannya adalah:
1. Brasil gak pernah menjajah Indonesia. Gw paling anti tim2 dari negara2 yg pernah menjajah Indonesia seperti Belanda & Jepang. Termasuk jg negara yg pernah coba2 bantuin penjajah2 itu spt Inggris dan yg pernah coba2 mau menjajah spt Portugis.
2. Sama2 negara berkembang.
3. Sama2 di belahan bumi selatan.
4. Sama2 punya hutan tropis yg ditebangin scr ilegal & legal. Sama2 rusak kayaknya...We have to do something people!!!
5. Yg pasti tim bolanya bagus.
6. Sohib gw org Curitiba, Brasil. (Hai Cris...)

Kayaknya kategorisasinya gak obyektif nih. Hari gini memangnya masih ada yg obyektif?
Kronologis 'penangkapan' Gayus di Singapura aja ceritanya sangat subyektif.
Ah...Gayus banget sih elo...

Saturday, April 03, 2010

Gila Bola / Crazy about Soccer

"Glory...Glory Bayern Munchen," kata temen2 gw yg benci Manchester United (MU) atau paling tidak seneng kalau MU kalah dipertandingan melawan Munchen di Liga Champion Eropa beberapa hari yg lalu. Sindiran yg keras karena kata 'Glory...Glory' itu diambil dr lagu kebesaran MU.

Pendukung MU cuma bisa senyum kecut sambil menjanjikan pembalasan di leg kedua yg akan digelar di kandang MU.

Gw ngelihatnya aneh aja. Geli kadang-kadang. Kenal kagak pernah ketemu jg kagak, tp ulah penggemar bola di Indonesia memang unik. Ngebelain tim2 kesayangannya sampai segitunya. Ada yg dibelain begadang sampe pagi nonton bareng pertandingan timnya di rumah atau di kafe-kafe dgn resiko besoknya ngantuk di kantor atau di sekolah/kuliah. Beli merchandise yg harganya selangit. Ikutan jumpa fans dengan pemain2 kesayangannya. Kalau perlu sampai dikejar ke Thailand atau Singapura bila bintang pujaannya terlalu 'cemen' gak berani datang ke Indonesia. Atau ikutan tour ke stadion markas tim andalannya di Inggris, Italia atau Spanyol. Bisa megang rumput stadionnya aja girangnya udah kaya dapet emas sekarung. Pokoknya hal2 absurd semcam itulah. Kalau ketemu Andrea Hirata akan gw tanyain kelakuan fans bola semacam ini tuh termasuk penyakit gila nomer berapa kalau di Laskar Pelangi :)

Sebagian lain, ada yg fanatik dengan tim2 sepakbola dalam negeri meskipun nampaknya lebih pada semangat primordialisme daripada apresiasi terhadap prestasi tim. Sampai dibelain naik atap bis, kereta api, ngerampok pedagang makanan atau merusak fasilitas umum ketika tim kesayangannya menang apalagi kalau kalah.

Absurd!!! (Menurut gw sih hehehe)

Kalau gak setuju pendapat gw, (biar adil) boleh juga pertanyaan dan pernyataan di atas dilontarkan balik ke gw dengan mengganti tim sepakbola dengan nama band spt U2, Pearl Jam, G 'n R etc. Gw sadar kayaknya gw punya ke'absurd' an serupa meskipun dalam bentuk yg lain.

Ya udahlah, tiap orang kayaknya punya 'mainan' nya masing2. Selamat bersenang2 dengan menjagokan tim bola kesayangan masing2, tp jangan rusuh ya...

Eh satu lagi, kalau piala dunia gw punya jago...Brasil...Kenapa? Kita bahas lain kali deh...

Lokal gw jagoin tim2 bola Jawa Timur. Persik, Arema, Persebaya, Persedikab dll. Yg lain gak masuk hitungan hehehe...

Peace!!!

Thursday, April 01, 2010

Human Cyborg / Manusia Setengah Robot

images.google.co.id

Ingat film Terminator? Tokoh utamanya diperankan Arnold Schwarzenegger. Dia menjadi robot yang dari masa depan yang dikirim ke masa sekarang. Atau Robocop, Universal Soldiers, Solo atau untuk anda yang besar di jaman TVRI masih jadi satu-satunya tv di Indonesia pasti ingat The Six Millions Dollar Man dan Bionic Woman. Ada persamaan diantara tokoh-tokoh film tersebut. Sebagian Manusia dan sebagian Robot dengan proporsi yang berbeda-beda. Bisa juga disebut Cyborg atau cybernetic organism (wikipedia-pen). Perpaduan mesin dengan tubuh atau perasaan manusia. The Six Million Dollarman banyak unsur manusia sedangkan Terminator lebih dominan unsur robotnya. Yang pasti mereka menjadi ‘super’ diantara manusia biasa di sekelilingnya. Bisa lari lebih cepat, tenaga yang lebih kuat dan kelebihan lainnya.

Mengutip pernyataan dosen saya, Dr. Rod Giblett, manusia secara disadari atau tidak sedang mengarah menjadi Human Cyborg. Manusia setengah robot. Manusia yang mempunyai kemampuan ‘super’. Bisa jadi kita sudah pada kategori ini. Manusia beraktifitas sehari-hari dengan bantuan yang luar biasa dari teknologi. Bisa bergerak lebih cepat (dengan mobil, kereta, pesawat dll), bertenaga lebih kuat (dengan eskavator, traktor dll), bisa berkomunikasi jarak jauh dengan mudah (dengan telepon, handphone, internet dll). Semuanya dengan bantuan teknologi yang semakin lama membuat kita sangat tergantung dengannya.

Bayangkan kalau tidak ada alat transportasi, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak Jakarta-Surabaya. Atau bagaimana kelimpungannya kita ketika keluar rumah tidak bawa handphone (atau blackberry). Apa harus belajar telepati kayak jaman dulu? :)

Tapi sering kali perkembangan teknologi yang pesat ini kurang diimbangi dengan penyesuaian budaya kita. Sebagai contoh, sering kita lihat orang naik motor atau bahkan mobil menerobos lampu merah. Mungkin ini disebabkan taraf budaya kita sebenarnya masih dalam fase ‘jalan kaki’ (seperti jaman dulu yang tidak perlu pengaturan dengan lampu lalu lintas), sementara dengan kecepatan dan kekuatan motor sekarang penerobosan lampu merah bisa berakibat fatal buat diri pengendara atau orang di sekitarnya. Budayanya nggak ngejar teknologinya.

Banyak hal-hal lain yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan contoh di atas (kurangnya penyesuaian budaya atas perkembangan jaman-pen). Misalnya, udah tahu kalu buang sampah di selokan itu bisa bikin alirannya mampet dan bisa mengakibatkan banjir, tetapi manusia toh tetep buang sampah di selokan. Udah tahu kalau banyak pohon itu akan membuat udara menjadi sejuk tetapi kenapa penanaman pohon tidak menjadi bagian yang terintegrasi dengan pembanguan perkotaan? Atau penggunaan Styrofoam untuk tempat makanan secara masiv di Indonesia tanpa adanya informasi bahwa barang-arang yang terbuat dari Styrofoam tidak akan hancur sampai ratusan tahun. Kita cenderung tergantung dengan hasil produksi teknologi baru tanpa tahu akibatnya.

Manusia yang lahir di ‘surga dunia’ kayak Indonesia ini nggak akan sadar bahwa gak ada tempat didunia ini yang seindah dan sesubur Indonesia. Lihat aja Australia. Tanah seluas itu yang subur cuma di bagian pinggir aja. Ke tengah udah gurun. Atau Singapura, pembangunan dan penghijauan berjalan bersama tapi tetep aja tanahnya cuma segitu. Kalaupun bisa diperluas dengan pengurugan lautnya pasti akan menimbulkan masalah dengan negara tetangganya.

Kata Counting Crows dalam Big Yellow Taxi, “That you don't know what you got till it's gone…They paved paradise and put up a parking lot.”

Pada akhirnya, kita toh tetep manusia yang terdiri dari daging dan darah yang membutuhkan makanan, air sehat, udara bersih dll. Kita bukan robot yang bisa di-charge dicolokan ke listrik.

Teknologi penting tapi pemenuhan kebutuhan dasar manusia tetap lebih penting. Jangan sampai unsur ‘Robot’ kita lebih dominan daripada sisi ke-‘Manusia’-an kita.

Jadilah ‘Human Cyborg’ yang bertanggung jawab. :)

Tuesday, March 16, 2010

'Point of View' (sebuah pencerahan)


Secara tak terduga comment seorang temen di status facebook ku menghadirkan 'pencerahan' bagi otakku yang sedang terkena syndrom tidak masuk akal.

Fakta apapun terlihat tidak masuk akal buatku. Yang masuk akal hanya yg sesuai dgn sudut pandangku sendiri.

Seperti ketika aku masukin film pendek karyaku untuk sebuah festival yg diadakan kedubes negara tempat aku belajar dulu. Ketika filmku gak termasuk yang di screening di main theatre dan melihat nama2 di poster promosi festival yang tercantum cuma nama2 yg sudah terkenal, sudut pandangku mengatakan hal itu tdk masuk akal. Buat apa ngundang orang ikut festival kalau jauh hari sebelumnya sudah ditetapkan karya orang2 terkenal itu buat discreening di main theatre? Filmku cuma dipamerin di foyer room doang. Percuma...

Eh...pas kasih kabar (setengah curhat) ke cameraman yang bantuin bikin film pendekku bahwa film kami gak masuk screening di main theatre dan cuma di pamerin di foyer room...cameraman sekaligus kawanku di desa ini kasih comment pendek...'Bisa ikut dipamerin di festival itu aja aku udah bangga mas'...

'TengTong'...comment pendek itu serasa lonceng yg mengingatkanku akan dahsyatnya 'sudut pandang' yang bisa mempengaruhi kebahagiaan kita sekaligus mengajariku untuk selalu bersyukur atas segala yg dianugerahkan Allah SWT padaku.

Suwun Rek...makasih kawan...thanks buddy..

Sunday, August 17, 2008

a good person

Hari ini secara tak sengaja aku ketemu Nugie Nugraha. Iya...yang penyanyi itu. Ketemunya di sebuah warung nasi ayam di daerah lippo karawaci Tangerang.

Ini pertemuan yang kedua sebenarnya. Yang pertama waktu aku jadi panitia konser Nugie di Undip Semarang tahun 1995. Waktu itu yang ngadain acara jurusan Komunikasi Undip angkatan '94. Angkatanku.

Yang istimewa dari kejadian tadi. Ketika aku menyapa Nugie dan mengingatkan sedikit tentang konser dia di Undip tahun 1995, dia langsung ingat detailnya dan bersemangat bercerita kepada teman-temannya yang makan bersamanya. Dan dia juga tetep RAMAH seperti ketika tahun 1995 dulu. 13 tahun yang lalu...

Memang kualitas kebaikan seseorang akan terlihat dengan cara apapun tak peduli kapan waktunya...demikian juga dengan kekurangan seseorang...

A good person will always be a good person...

Monday, July 21, 2008

A man and a kid

Last night, I got a surprising experience. I just get out of my office building and walking to ATM nearby my office. That was almost 10 pm. As I got in to the ATM, I saw a young man riding a bike. Behind him is a kid (I think it’s a boy). He ride his bike to the ATM. I thought he would use the ATM as well. I was wrong. Still in his bike, the young man picked a used plastic glass lied in front of the ATM room using a stick. Then he handed over the plastic glass to the kid behind him to be put in their plastic bag. Yes, right! The young man is a waste taker. He collects used plastic waste and sells it to a dealer for living. Suddenly, I remember my son and my wife at home. I realize no matter how hard my job is, I am still much luckier than that young man. Bur sometimes we forget to be grateful for everything we receive from Allah SWT. Hope the young man and his kid are alright and get a better life.