Saturday, April 03, 2010

Gila Bola / Crazy about Soccer

"Glory...Glory Bayern Munchen," kata temen2 gw yg benci Manchester United (MU) atau paling tidak seneng kalau MU kalah dipertandingan melawan Munchen di Liga Champion Eropa beberapa hari yg lalu. Sindiran yg keras karena kata 'Glory...Glory' itu diambil dr lagu kebesaran MU.

Pendukung MU cuma bisa senyum kecut sambil menjanjikan pembalasan di leg kedua yg akan digelar di kandang MU.

Gw ngelihatnya aneh aja. Geli kadang-kadang. Kenal kagak pernah ketemu jg kagak, tp ulah penggemar bola di Indonesia memang unik. Ngebelain tim2 kesayangannya sampai segitunya. Ada yg dibelain begadang sampe pagi nonton bareng pertandingan timnya di rumah atau di kafe-kafe dgn resiko besoknya ngantuk di kantor atau di sekolah/kuliah. Beli merchandise yg harganya selangit. Ikutan jumpa fans dengan pemain2 kesayangannya. Kalau perlu sampai dikejar ke Thailand atau Singapura bila bintang pujaannya terlalu 'cemen' gak berani datang ke Indonesia. Atau ikutan tour ke stadion markas tim andalannya di Inggris, Italia atau Spanyol. Bisa megang rumput stadionnya aja girangnya udah kaya dapet emas sekarung. Pokoknya hal2 absurd semcam itulah. Kalau ketemu Andrea Hirata akan gw tanyain kelakuan fans bola semacam ini tuh termasuk penyakit gila nomer berapa kalau di Laskar Pelangi :)

Sebagian lain, ada yg fanatik dengan tim2 sepakbola dalam negeri meskipun nampaknya lebih pada semangat primordialisme daripada apresiasi terhadap prestasi tim. Sampai dibelain naik atap bis, kereta api, ngerampok pedagang makanan atau merusak fasilitas umum ketika tim kesayangannya menang apalagi kalau kalah.

Absurd!!! (Menurut gw sih hehehe)

Kalau gak setuju pendapat gw, (biar adil) boleh juga pertanyaan dan pernyataan di atas dilontarkan balik ke gw dengan mengganti tim sepakbola dengan nama band spt U2, Pearl Jam, G 'n R etc. Gw sadar kayaknya gw punya ke'absurd' an serupa meskipun dalam bentuk yg lain.

Ya udahlah, tiap orang kayaknya punya 'mainan' nya masing2. Selamat bersenang2 dengan menjagokan tim bola kesayangan masing2, tp jangan rusuh ya...

Eh satu lagi, kalau piala dunia gw punya jago...Brasil...Kenapa? Kita bahas lain kali deh...

Lokal gw jagoin tim2 bola Jawa Timur. Persik, Arema, Persebaya, Persedikab dll. Yg lain gak masuk hitungan hehehe...

Peace!!!

Thursday, April 01, 2010

Human Cyborg / Manusia Setengah Robot

images.google.co.id

Ingat film Terminator? Tokoh utamanya diperankan Arnold Schwarzenegger. Dia menjadi robot yang dari masa depan yang dikirim ke masa sekarang. Atau Robocop, Universal Soldiers, Solo atau untuk anda yang besar di jaman TVRI masih jadi satu-satunya tv di Indonesia pasti ingat The Six Millions Dollar Man dan Bionic Woman. Ada persamaan diantara tokoh-tokoh film tersebut. Sebagian Manusia dan sebagian Robot dengan proporsi yang berbeda-beda. Bisa juga disebut Cyborg atau cybernetic organism (wikipedia-pen). Perpaduan mesin dengan tubuh atau perasaan manusia. The Six Million Dollarman banyak unsur manusia sedangkan Terminator lebih dominan unsur robotnya. Yang pasti mereka menjadi ‘super’ diantara manusia biasa di sekelilingnya. Bisa lari lebih cepat, tenaga yang lebih kuat dan kelebihan lainnya.

Mengutip pernyataan dosen saya, Dr. Rod Giblett, manusia secara disadari atau tidak sedang mengarah menjadi Human Cyborg. Manusia setengah robot. Manusia yang mempunyai kemampuan ‘super’. Bisa jadi kita sudah pada kategori ini. Manusia beraktifitas sehari-hari dengan bantuan yang luar biasa dari teknologi. Bisa bergerak lebih cepat (dengan mobil, kereta, pesawat dll), bertenaga lebih kuat (dengan eskavator, traktor dll), bisa berkomunikasi jarak jauh dengan mudah (dengan telepon, handphone, internet dll). Semuanya dengan bantuan teknologi yang semakin lama membuat kita sangat tergantung dengannya.

Bayangkan kalau tidak ada alat transportasi, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak Jakarta-Surabaya. Atau bagaimana kelimpungannya kita ketika keluar rumah tidak bawa handphone (atau blackberry). Apa harus belajar telepati kayak jaman dulu? :)

Tapi sering kali perkembangan teknologi yang pesat ini kurang diimbangi dengan penyesuaian budaya kita. Sebagai contoh, sering kita lihat orang naik motor atau bahkan mobil menerobos lampu merah. Mungkin ini disebabkan taraf budaya kita sebenarnya masih dalam fase ‘jalan kaki’ (seperti jaman dulu yang tidak perlu pengaturan dengan lampu lalu lintas), sementara dengan kecepatan dan kekuatan motor sekarang penerobosan lampu merah bisa berakibat fatal buat diri pengendara atau orang di sekitarnya. Budayanya nggak ngejar teknologinya.

Banyak hal-hal lain yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan contoh di atas (kurangnya penyesuaian budaya atas perkembangan jaman-pen). Misalnya, udah tahu kalu buang sampah di selokan itu bisa bikin alirannya mampet dan bisa mengakibatkan banjir, tetapi manusia toh tetep buang sampah di selokan. Udah tahu kalau banyak pohon itu akan membuat udara menjadi sejuk tetapi kenapa penanaman pohon tidak menjadi bagian yang terintegrasi dengan pembanguan perkotaan? Atau penggunaan Styrofoam untuk tempat makanan secara masiv di Indonesia tanpa adanya informasi bahwa barang-arang yang terbuat dari Styrofoam tidak akan hancur sampai ratusan tahun. Kita cenderung tergantung dengan hasil produksi teknologi baru tanpa tahu akibatnya.

Manusia yang lahir di ‘surga dunia’ kayak Indonesia ini nggak akan sadar bahwa gak ada tempat didunia ini yang seindah dan sesubur Indonesia. Lihat aja Australia. Tanah seluas itu yang subur cuma di bagian pinggir aja. Ke tengah udah gurun. Atau Singapura, pembangunan dan penghijauan berjalan bersama tapi tetep aja tanahnya cuma segitu. Kalaupun bisa diperluas dengan pengurugan lautnya pasti akan menimbulkan masalah dengan negara tetangganya.

Kata Counting Crows dalam Big Yellow Taxi, “That you don't know what you got till it's gone…They paved paradise and put up a parking lot.”

Pada akhirnya, kita toh tetep manusia yang terdiri dari daging dan darah yang membutuhkan makanan, air sehat, udara bersih dll. Kita bukan robot yang bisa di-charge dicolokan ke listrik.

Teknologi penting tapi pemenuhan kebutuhan dasar manusia tetap lebih penting. Jangan sampai unsur ‘Robot’ kita lebih dominan daripada sisi ke-‘Manusia’-an kita.

Jadilah ‘Human Cyborg’ yang bertanggung jawab. :)

Thursday, March 25, 2010

Writing The Body

This journal will describe some forms of writing on the body and also the interpretation of the term of writing on the body. According to Certeau (1984, 134), writing is the concrete activity that consists in constructing, on its own, blank space-the page- a text that has power over the exteriority from which it has first been isolated. There are at least two interpretations when talking about writing on the human body. First, writing on the body can be understood as a real activity writing some texts on the surface of human’s bodies. The second, writing the body can also have a connotation meaning. It means that the body is marked or written of so many symbol and status that influenced by the socio cultural factors.

First of all, the body can be written of some text such through tattooing or piercing whether it is permanent or temporary thing. Some culture has this kind of habit of using the body as the media in writing some text. The text written can symbolize so many meaning. For example, in Yakuza organization in Japan, the tattoo in someone’s body can be the symbol of affiliation and the status of a particular person in the organization. Another example of using the body as the media for written text is in Dayak tribe culture in Borneo/Kalimantan, Indonesia. The tattoo in their body can be the symbol of the maturity and also the social status in the community.

Secondly, the connotation meaning of writing the body is that the body has been marked and labeled by the written law and the socio cultural factors in the society. In Islam, the human body is depicted as a clean white paper when s/he is born. The human body is written and coloured by the influence of the parent, the socio cultural, the experience and any kind of factors that has contact with the growing body. Soon after born the baby will labeled as male or female. Then race or ethnicity also will be marked to the baby. The next thing is religion and then when the baby is grown up s/he will have the social status in the society. When s/he is following the fashion or music trend in this globalise society, s/he will add some more text into their body such as a rock person, an R & B person, a Nike person, a Esprit person and so on. Even until the body is pass away, it still has some marks. For instance, the society will recognise the death body as a good or bad person when s/he was still alive. While the body ends the journey in the world, it will has so many text, symbol, mark and label all over the body.

The connotation meaning of writing the body sometimes is one of the biggest problems in the history of human being. People cannot release themselves from the text written in their body. People can be fallen into trouble only because they have some label in their body. The history prove this phenomenon that can be seen from what happens to Jewish in the past, the Palestinian, the Bosnian, the Moslem, the Aboriginal people and there are still a long list of what can be caused by the writing the body.