Friday, November 22, 2013

Travelling Keluarga (part 2)


 
Pre-Departure

Sehari sebelum berangkat ke Singapura, sibuk packing dan menunggu Ortu dan saudara-saudara yang datang dari luar Jakarta. Tantangan pertama muncul ketika adik bungsuku yang baru naik pesawat dari Surabaya kopornya dibobol maling. Sempet bikin bete... Entah di bandara atau di pesawat nih maling-maling kelas teri ini beraksi. Tapi alhamdulillah paspor ama tiket aman. Akhirnya aku dan adikku satunya lagi patungan untuk ganti duit yang hilang. Ditambahin pula sama Ortu, jadi utuh lagi duit dia & senyum lagi :)

Pagi banget bangun, mandi dan ke bandara ngejar pesawat jam 8 pagi. Semua OK sampai setelah check in. Antrian pintu imigrasi yang sebelumnya lengang, tiba-tiba penuh dengan rombongan umroh. Wadhoh...boarding time-nya udah mepet lagi...sempet deg-degan juga. Alhamdulillah nggak telat masuk pesawat meskipun petugasnya sudah berkali-kali final call untuk rombongan kami.

Kaos Family Values Tour
Family Values Tour pun dimulai. Istilah Family Values Tour merupakan plesetan dari nama tour band-band metal tahun 90an.

Imigrasi
Sampai Changi cuaca cerah. Terakhir transit di Changi tahun 2001. Udah lupa situasinya. Banyak baca papan pengumuman plus celingak celinguk. Ndeso banget deh kayaknya, gak kayak orang-orang Jakarta umumnya yang ke Singapur udah kayak bolak-balik ke kamar mandi J Anakku yg nomer dua nggak bisa diem ketika antri di counter imigrasi. Galak lagi petugasnya. “Hold your kid...hold your kid,” katanya. Yeee dari tadi jg udah gw pegangin. Kesan pertama yg nggak enak. Untung terhapus ketika ada petugas security yang nyamperin dan ngasih permen ke anak gw.

Setelah ambil bagasi nyari sarapan di lingkungan bandara situ. Nah, urusan menu aja bisa jadi masalah kalau gak tepat. Seleranya beda-beda,lha wong generasinya juga beda-beda. Bapak Ibuk perlu makanan yang rasanya gak jauh-jauh dari makanan Indonesia. Gw dan adik-adik bebas bisa makan apa aja. Bayiku perlu bubur :)

Akhirnya makan di Burger King. Lumayan buat sarapan yang kesiangan.

Sambil makan sambil mikir gimana caranya ke Hotel Orchard. Nggak pesan jemputan karena mahal. Naik bus harus ganti 2 kali. Taksi lah pilihannya. Pas nyari taksi, ketemu sama orang baik yang akan mewarnai petualangan kami selama di Singapura dan Malaysia. Namanya Abang Zahid. Driver Minibus. Sekilas gw ingat kalo orang ini tuh udah nawarin minibusnya ke kami ketika kami baru keluar dari pintu bandara. Sebelumnya kami tolak karena rencana awal mau naik taksi. Diitung-itung rombongan kami paling nggak perlu 4 taksi. Per taksi bisa abis 23 dollar Singapura. Minibus dia bisa ngangkut kami semua dengan tarif 60 dollar. Kami pilih naik minibus saja akhirnya.

Minibus
Minibusnya Hiace. Masih jarang di Indonesia. Nyaman dan bersih. Inget shuttle-shuttle di Perth dulu. Perjalanan lancar dan Abang Zahid tidak pelit bicara. Dia mau ngobrol dan bisa bahasa melayu.
Hotel

Akhirnya sampai hotel udah lewat jam 12 siang. Keren juga nih hotel. Namanya Orchard Hotel. Selera adikku yang paling kecil nih hehehe. Karena deket sama Imlek, dekorasi hotelnya full nuansa Imlek.

Day 1
Karena masih kecapekan, hari pertama cuma ke Lucky Plaza yang lumayan deket sama hotel tempat kami menginap. Karena gerimis kami naik taksi. Pas taksiku sopirnya jutek banget. Katanya muatannya kebanyakan. Dia nanya,”are you local?” Begitu gw jawab bukan, langsung dia ngoceh sepanjang perjalanan yang cuma 7 menitan itu. Ngomel-ngomel. Katanya orang Malaysia dan Indonesia sama saja. Gak mengindahkan peraturan. Polisinya bisa disogok kalo ketangkep. Gw minta maaf tp dalam hati jengkel juga. I mean, you can just tell me. Kalau muatannya kebanyakan, kami bisa bagi orangnya dengan naik taksi lainnya. Bawa-bawa nama negara lagi. Elo kira elo ngomong bahasa Inggris...halah bahasa gak jelas gitu. 

Untung gw bisa menahan diri. Gak mau bikin masalah di negara orang. Kesan jelek yang kedua setelah kejutekan petugas imigrasi.

Tapi friend ada yang aneh. Tiap kali gw membenci sesuatu, pasti  Tuhan kasih pembanding yang lain sehingga gw tidak jadi menarik kesimpulan yang salah akan suatu tempat, benda atau orang.

Balik dari Lucky Plaza, kami ketemu sopir taksi yang baik banget. Beda banget sama driver sebelumnya. Ketika anak keduaku yang lumayan aktif minta duduk di kursi sebelah pengemudi, gw kira sopirnya akan jutek kayak sopir sebelumnya. Ternyata enggak lho. Drivernya baik banget. Masangin seatbelt buat anak gw yang umurnya hampir 4 tahun dan ngajak ngobrol sedikit-sedikit. Malah pas bayar taksi karena gw gak punya pecahan kecil,  tarifnya dia buletin kebawah. Dia biarkan kami kurang 25 sen untuk ongkos taksinya. Istri gw baru cari-cari di dompet, dia bilang udahlah gak usah.

Wow, seru juga nih perjalanan. Baru hari pertama udah diperlihatkan pelajaran tentang sifat-sifat manusia. 2 sopir taksi dengan kepribadian yang seperti langit dan bumi. Buru-buru gw delete kesimpulan gw sebelumnya bahwa orang sini nyebelin. Ada yang nyebelin pasti ada yang baik.

Itulah serunya perjalanan, jangan kapok membuka diri untuk ketemu banyak orang dan jangan terlalu cepet menyimpulkan sesuatu sebelum ketemu banyak hal. (bersambung)

Travelling Keluarga (part 1)



Bulan Februari 2013 lalu adalah bulan yang spesial buat keluarga besar kami. Sejak tahun lalu kami sekeluarga berencana untuk melakukan perjalanan bersama dan kalau bisa ke luar negeri. Rencana awal tujuannya adalah Korea Selatan, tapi karena anak-anak kami masih balita dan kuatir akan perbedaan cuaca yang terlalu drastis akhirnya Korea Selatan disimpan dulu dalam kotak rencana. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya diputuskan untuk ke negara yang nggak terlalu jauh. Pilihan jatuh ke Singapura dan Malaysia. Flight banyak dan durasi terbang nggak terlalu lama. Cuaca juga nggak jauh beda dengan Indonesia.

Family Trip dengan mudah berubah menjadi Adventure Travelling ketika melakukan perjalanan bersama dengan peserta yang range umurnya dari Bapak Ibuk yang usianya sudah diatas 50 tahun sampai anak gw yang masih bayi 8 bulan. Belum lagi ada anak keduaku yang hampir 4 tahun dan kedua sepupunya yang masih berusia 2 tahun lebih dan 1 tahun lebih. Mereka lagi aktif-aktifnya. Anakku yang SD sih udah ngerti. Total 13 orang. Udah gitu nggak ikut paket yang biasa dibuat travel agent...Go with the flow aja...Seru...Hehehe...

Urus Paspor
Untuk keluarga kecilku, petualangan dimulai dari ketika mengurus pembuatan paspor.  Perpanjangan buat aku, istri dan anak pertama. Buat paspor baru untuk anak kedua dan ketiga.
Mudah? Iya kalau elo buat paspor buat diri elo sendiri. Coba tambahin unsur istri + 3 anak (1 sudah sekolah SD, 1 playgroup dan 1 bayi). Mau ke kantor imigrasi aja harus tertunda beberapa kali. Kitanya free, anak yang SD formatif test. Semua udah bisa, yang kecil sakit dll.

Oh iya, gw sengaja niat ngurus paspor sendiri. Gak pakai calo. Kalau pakai calo mahal, bisa sampai 1 juta tiap paspornya. Selain itu setelah browsing di internet, Kantor Imigrasi Tangerang dikenal udah lumayan  rapi dan prosedurnya pasti. Ada jalur Online untuk masukin berkasnya. Yang nggak Online juga masih bisa, tapi perlu waktu lebih lama. Pingin buktiin sendiri bener nggak sih...

Jadi, ternyata ada dua jalur yang bisa dipilih ketika mengurus pembuatan paspor. Sebut saja Jalur Nggak Online dan Jalur Online :) 

Info lengkap ada di www.imigrasi.go.id

Simple-nya begini. Kalau yang Nggak Online itu paling tidak perlu datang ke kantor imigrasi 3 kali dihari yang berbeda. Langkah Pertama, masukin berkas. Setelah itu dikasih pengumuman kapan hari dan tanggal photo. Kedua, datang lagi ke kantor imigrasi di hari lain untuk bayar, photo dan wawancara. Ketiga, datang lagi untuk ambil paspor yang sudah jadi. Biasanya 4 hari kerja setelah photo.

Nah, untuk jalur Online Langkah Pertama dan Kedua dilakukan dihari yang sama. 4 hari kemudian datang lagi ke kantor imigrasi untuk ambil paspor. Jadi hanya perlu 2 kali datang ke kantor Imigrasi.

Syarat-syarat Pembuatan Paspor sama saja:
1.      KTP (asli dan fotocopy)
2.      Kartu Keluarga (asli dan fotocopy)
3.      Akte Kelahiran/Ijazah (asli dan fotocopy)
4.      Surat Nikah (bagi yang sudah menikah)
5.      Paspor lama untuk yang sudah punya paspor (asli dan fotocopy)
6.      Surat rekomendasi dari tempat kerja (lumayan membantu untuk meyakinkan akan kerjaan kita)
7.      Formulir Perdim 11 dan Surat Pernyataan + Map (diambil di tempat fotocopy kantor Imigrasi...GRATIS). Kalau mau fotocopy dokumen tambahan dan beli materai, baru bayar...ya iyalah.
Untuk anak-anak  dibawah 17 tahun dan belum punya KTP, syaratnya sama dengan di atas, Cuma KTP dan Surat Nikahnya pakai punya orang tuanya. Ditambah Surat Pernyataan Ortu + Materai (diambil di tempat fotocopy kantor Imigrasi). Selain itu ada syarat tambahan untuk yang ganti nama dan untuk warga yang baru jadi WNI.

Untuk prosedur Online, dokumen-dokumen di atas (kecuali no. 7) di scan dengan format greyscale dan ukuran filenya maksimal 300 kb.
Login di pembuatan paspor Online di www.imigrasi.go.id
A.      Isi data diri. Untuk anak-anak pakai NIK (Nomor Induk Kependudukan) yang di Kartu Keluarga. Kalau ada kolom KTP berarti pakai KTP orang tua (tanggal pembuatan dan berakhirnya KTP).
B.      Upload dokumen-dokumen yang sudah di-scan
C.      Pilih Kantor Imigrasi dan pilih tanggal kedatangan. Bisa dimana aja. Cari yang dekat rumah aja dan tanggalnya sesuai dengan waktu yang kita punya. Kalau di tanggal yang kita pilih kita berhalangan, harus mengulang proses pendaftaran online lagi untuk dapatin tanggal yang baru. Yang lama dianggap hangus.
D.     Print bukti pendaftaran Online untuk dibawa ke kantor Imigrasi.
E.      Datang ke kantor Imigrasi di tanggal yang telah dipilih dengan membawa semua berkas asli dan fotocopy. Kalau di Kantor Imigrasi Tangerang lumayan rapi. Gak perlu antri dari subuh. Belum buka juga kantornya hehehe...jam 07.30 okelah. Ambil Map, formulir, surat pernyataan dan beli materai di tempat forocopy (lihat no. 7 di atas). Isi formulir dengan lengkap. Setelah itu bawa ke Customer Care (lokasi dekat pintu masuk) untuk diperiksa kelengkapannya dan diberi nomor antrian. Beda nomor antrian dan loket untuk yang Online dan Nggak Online. Yang Nggak Online antriannya lumayan panjang. Terus nunggu dipanggil...
F.       Ketika dipanggil ke loket, bawa print out bukti pendaftaran Online dan Map yang berisi formulir dan semua berkas (fotocopy-nya saja). Setelah diperiksa dikasih tanda terima yang juga berisi keterangan kapan tanggal dan hari untuk pembayaran biaya pembuatan paspor, photo dan wawancara. Disini yang membedakan nasib yang Online dan yang Nggak. Yang Online biasanya disuruh datang lagi siang harinya di tanggal yang sama (kecuali hari itu membludak peminatnya), sedangkan yang Nggak Online di kasih tanggal lain.
G.     Antrian untuk bayar dan photo baru bisa diambil sekitar jam 13. Jadi kalau masih lama mendingan pulang atau jalan-jalan dulu. Jam 13 kurang dikit ambil nomor antrian bayar dan photo dengan menunjukkan tanda terima pengumpulan berkas. Setelah dapat nomor antrian, nunggu dipanggil lagi...
H.     Selanjutnya, bayar, antri photo, rekam sidik jari dan wawancara untuk memeriksa dan memverifikasi data. Dokumen asli baru diperlukan disini. Disiapkan saja untuk ditunjukkan kepada petugas. Setelah sempat bikin ‘hang’ 2 komputer untuk photo, akhirnya kelar juga photo-nya. Anakku agak energik, pas di photo dia udah pasang senyum, sayangnya matanya jadi merem. Komputer dan kamera digitalnya standby terlalu lama karena kelamaan atur ekspresi anakku, hasilnya 2 komputer hang hehehe...Setelah wawancara diberi tanda terima lagi untuk bukti pengambilan paspor 4 hari (kerja) kemudian. Ada keterangannya kapan jadinya itu paspor.
I.        Pada hari yang ditentuin datang lagi ke kantor imigrasi. Nunjukin tanda terima, ambil nomor antrian, nunggu dipanggil, trus dipanggil, dikasih paspor, disuruh fotocopy paspor baru untuk berkas kantor imigrasi, nyerahin fotocopyan paspor...selesai deh

Salute buat Kantor Imigrasi Tangerang. Serius mau berbenah. Beda dengan situasi tahun 2006 dulu ketika ngurus paspor. Waktu itu nyari info tahapan bikin paspor aja bingung mau nanya siapa.

Kesimpulannya, enak juga bikin paspor secara Online. Hemat waktu. Mengurangi  1 hari kunjungan ke kantor imigrasi. Biaya sama aja. Rp. 255.000 untuk paspor 48 halaman. Antriannya lebih sedikit dibanding yang Nggak Online. Mungkin karena banyak yang belum terbiasa ngurus yang Online.
Nah, petualangan pertama terlalui hehehe... (bersambung)

Saturday, December 08, 2012

Kerja di kafetaria kampus



Lagi ngirisin rainbow cake kiriman temen, jadi inget waktu kerja di kafe dan kebagian ngirisin kue-kue buat dessert. Satu hal yang paling menakutkan dari banyak hal yang harus dikerjakan selama kerja di kafe itu. Takut berantakan man, ‘presentation’ itu hal penting dalam seni menyuguhkan makanan. Lha, black forest adalah salah satu yang nggak mau berteman baik ama gw. Susah rapinya kalo di iris. Mleyo-mleyot. Tart apalagi.  Pie mending lah, meski isinya keluar-keluar. Mana diawasin terus sama managernya :)

Waktu itu gw kerja di salah satu kafetaria kampus gw. Namanya EVK. Di bidang pekerjaan kasar macam ini, orang Indonesia termasuk juaranya dan mendominasi percaturan pekerja kafe-kafe di kampus ini. Sementara student bangsa lain suka ngeluh dan gak tahan lama kerja restoran macam gini, student dari Indonesia termasuk paling betah dan mau ngelakuin apa aja asal argo jalan terus. Dalam dollar lagi hehehe. Malah sampai ada yang jadi supervisor. Ceritanya, kalau di Indonesia beliau ini seorang dokter. Selama ambil S-2 di University of Southern California, Los Angeles ini, beliau kerja di kafetaria kampus. Semakin dipercaya managemen, jadinya beliau punya ‘wewenang’ untuk merekrut tenaga baru. Ada yang dari India, China, dan paling banyak dari Indonesia tentunya. 

Gak cuma di kafe tempatku kerja, di kafe-kafe lain di kampus ini (kampus ini kafenya banyak) juga ada aja student dari Indonesia yang kerja di situ. Gak cuma student malah, yang menguasai pasar sushi di sini ternyata seorang ibu asal Malang Jawa Timur. Pingin ketawa kalau lihat orang Jepang makan siang pakai sushi yang sebenarnya mengandung sentuhan Jawa Timur. Sushinya Ojo dikasih sambel pecel ya bu hehehe

Melihat  peluang itu, akhirnya aku join di salah satu kafetaria. Untuk cari pengalaman dan tambah penghasilan. Per jam-nya 6,5 dollar. Termasuk keren waktu itu dan katanya udah masuk UMR Los Angeles. Gak tau bener apa nggak, tapi yang jelas harga paket burger+frech fries+cola aja masih sekitar 2,5 dollar. Jadi kalau kerja 1 jam aja udah bisa makan junk food 2 kali + ongkos bis kota :) 
Padahal sehari kerja bisa 8 jam. Fiuh...

Kerjanya all-round. Dari jadi bagian serving, runner (bersihin meja dan isi stock2 makanan yang kosong), ngurusin dessert, sampai bagian cuci piring. Tiap hari dirolling, jadi tiap dateng harus lihat dulu info di papan pengumuman untuk tau tugas apa hari ini.
Workin' @ EVK, USC LA
Hari pertama, karena rambut gondrong (metal forever), gw harus pake hair net. Cool, keren, kayak anak gang meksiko hehehe. Kalau nggak ya kayak anak gang sebelah lah hehehe. Karena gak punya, gw dikasih sama ibu-ibu baik hati bernama Maria. Temen kerjanya adalah beberapa anak S-2 dari Indonesia yang sama-sama cari tambahan duit, 2 anak India yang cuma tahan beberapa hari, 1 anak Taiwan/China yang cuma masuk sehari trus gak keliatan lagi besokannya. Ada juga dua anak muda keturunan meksiko. Mereka baru lulus SMA tapi belum bisa masuk college karena kurang biaya. Uniknya keduanya bernama Jesus (dipanggil Hesus). Trus ada temen cuci piring (gw lupa namanya), cewek afrika amerika berbadan besar yang rajin ngumpat seperti di film-film hollywood kalau cucian piringnya lagi bejibun. Selain itu banyak bapak-bapak dan ibu-ibu latino di bagian masak. Managernya juga latino. Mana orang bulenya ya, kayak nggak di amerika hehehe...

Enaknya disini, karyawan boleh makan apa aja yang ada di situ ketika jam istirahat makan. Berat badanpun langsung melonjak man hehehe. Dari ‘dunia ngirit’ kemudian masuk ke ‘dunia bebas makan’. Dari sereal, main course sampe dessert boleh di makan. Tapi gak boleh dibawa pulang. Meskipun kalau udah malam tetep aja kita bawa pulang sama-sama. Daripada dibuang. Mubazir hehehe. Juga sebagai bentuk perlawanan terhadap manajemen restoran modern yang memilih membuang makanan daripada dikasi ke pekerjanya. Buruh bersatu dimanapun jua hehehe

Beberapa hal yang gw pelajari, standar kebersihannya dahsyat. Ketika serving makanan harus pakai sarung tangan plastik. Sarung tangan disediain dalam jumlah tak terbatas. Kalau pas pake sarung tangan garuk-garuk badan, harus langsung ganti sarung tangan. Nerima piring yang sudah dipegang customer, ganti sarung tangan. Apron (celemek) sekali pakai. Selesai shift langsung dimasukin kantong laundry. Untuk cuci piring, setelah di semprot pake air tekanan tinggi, dimasukin ke mesin pencuci dengan suhu tinggi. Sempet ada temen dari Indonesia yang buang ingus di wastafel tempat cuci handuk lap meja (bukan tempat cuci tangan lho), diomelin sama yang lain. “Hey man, you’re in trouble man...do your thing in the restroom!”

Melelahkan tapi seru. Sedikit kenal dengan kehidupan ‘grass root’ orang Amerika. Karena mau test, gw harus mengakhiri ‘karier’ pendek gw di bidang ini. Terakhir jadi kasir.